Pages

Selasa, 06 Maret 2012

PROSPEK KOMODITI PENGOLAHAN MINYAK NILAM

      Tanaman nilam (Pogostemin Patchouli) disebut juga sebagai Pogostemon Cablin Benth merupakan tanaman perdu wangi berdaun halus dan berbatang segi empat. Daun kering tanaman ini disuling untuk mendapatkan minyak nilam (patchouli oil) yang banyak digunakan dalam berbagai kegiatan industri. Fungsi utama minyak nilam sebagai bahan baku (fiksatif) dari komponen kandungan utamanya yaitu patchouli alkohol (C15H26) dan sebagai bahan pengendali penerbang (eteris) untuk wewangian (parfum) agar aroma keharumannya bertahan lebih lama. Selain itu, minyak nilam digunakan sebagai bahan campuran produk kosmetik (diantaranya untuk pembuatan sabun, pasta gigi, sampoo, lotion, dan deodorant), kebutuhan industri makanan (di antaranya untuk essence atau penambah rasa), kebutuhan farmasi (untuk pembuatan anti radang, antifungi, anti serangga, afrodisiak, anti inflamasi, antidepresi, antiflogistik, serta dekongestan), kebutuhan aroma terapi, bahan baku compound dan pengawetan barang, serta berbagai kebutuhan industri lainnya (Mangun, 2008). 
     Nilam patchouli alkohol (C15H26), berasal dari daerah tropis Asia Tenggara terutama Indonesia dan Philipina, serta India, Amerika selatan dan China (Grieve, 2003). Di Indo-nesia, sentra produksi nilam di propinsi Nanggroe Aceh Darusalam dan Suma-tera Utara. Pada sentra tersebut meli-batkan banyak pengrajin serta me-nyerap ribuan tenaga kerja. Sebagai penghasil minyak nilam terbesar, Pro-pinsi Nanggroe Aceh Darusalam mem-berikan kontribusi 70 % terhadap pro-duksi nasional (Anonimous, 2003). Walaupun tanaman nilam telah dibudidayakan selama hampir 100 tahun, di daerah penghasil utama (Aceh dan Sumatera Utara), namun sampai sekarang teknologi pengolahan hasil-nya masih tertinggal sehingga mutu minyak yang dihasilkan masih rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor sosial ekonomi petani dan faktor teknologi yang diakses masih terbatas. 

Letak Geografis Kep. Mentawai 
         Wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai berjarak sekitar 100 km di sebelah barat pantai Pulau Sumatera, terdiri dari 4 pulau besar yang didiami penduduk, yaitu Pulau Siberut di bagian utara sebagai pulau terbesar, Pulau Sipora di bagian tengah, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan di bagian selatan.  Semuanya terletak pada 90Ý 35' - 100Ý 32' BT dan 0Ý 50' - 3Ý 21' LS. 
        Kabupaten Kepulauan Mentawai, secara geografis merupakan gugusan pulau-pulau besar dan kecil.  Selain pulau-pulau besar (Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan), juga terdapat 252 pulau-pulau kecil.
        Panjang garis pantai di wilayah Kepulauan Mentawai Ý 758 Km. Hal ini terkiat dengan letak geografis wilayah Kepualaun Mentawai di tengah Samudera Hindia dan terdiri dari gugusan pulau-pulau. Daerah Siberut memiliki jenis-jenis tumbuhan mangrove untuk daerah Siberut
           Secara keseluruhan luas wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah 6.011,35 kmÝ, yang meliputi  4 wilayah kecamatan, yaitu : 
 
Kecamatan
Luas
Pagai Utara Selatan  
1.521,55 km2
Sipora
651,55 km2
Siberut Selatan  
1.873,30 km2
Siberut Utara
1.964,95 km2


Secara geografis wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki batas-batas  : 

Sebelah Utara
Kabupaten Nias Selatan
Sebelah Selatan
Kabupaten Pesisir Selatan
Sebelah Barat
Samudera Indonesia
Sebelah Timur
Kabupaten Padang Pariaman,  Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan
Daerah Penghasil Nilam Di Kepulauan Mentawai 
        Ada beberapa dusun dikepulauan mentawai yang menjadi sumber penghasil minyak nilam antara lain yaitu Dusun Lakau, Desa Bulasat, Maileppet, Pasakiat dan lain-lain Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, menghasilkan minyak nilam. Hampir seluruh penduduk menggantungkan hidup dari perkebunan nilam, selain dari perkebunan cokelat, cengkeh, dan kopra serta hasil perikanan tangkap.
        Tanaman nilam siap dipanen perdana setelah berumur enam bulan dan dapat dipanen tiga bulan sekali setelahnya. Bagian yang dipanen biasanya cabang dari tingkat dua ke atas sekitar 20 sentimeter di atas tanah. Nilam hasil panen dicacah dan dijemur di bawah sinar matahari selama empat jam. Setelah itu, daun nilam kering diangin-anginkan sambil dibolak-balik selama empat hari hingga kadar airnya tinggal 15 persen. Setelah itu, nilam siap disuling.
         Penyulingan berlangsung 12 jam dengan teknik penyulingan uap kering yang dihasilkan mesin penghasil uap yang diteruskan ke dalam tangki reaksi. Selanjutnya uap akan menembus bahan baku nilam kering dan uap yang ditimbulkan diteruskan ke bagian pemisahan uap air dengan uap minyak nilam. Tiga karung tanaman nilam kering dapat menghasilkan 8 ons hingga 1 kilogram minyak atsiri. Warga yang tidak memiliki sarana penyulingan biasa membayar sepersepuluh dari hasil minyak nilam ke pemilik alat suling. Hasilnya mereka jual ke Sikakap, ibu kota Kecamatan Pagai Utara, Kepulauan Mentawai, yang merupakan jalur perdagangan komoditas ke Padang. Sebanyak 1 kg minyak nilam dapat terjual sekitar Rp 700.000. Sayang, jerih payah warga Lakau menjadi tidak menentu karena permainan tengkulak yang memonopoli harga. 

Metoda Penyulingan Minyak Nilam 
Dalam industri minyak nilam pada umumnya dikenal tiga macam metode penyulingan, yaitu 

1.    Penyulingan Dengan Air 
      Pada metode ini, bahan yang akan disuling kontak langsung dengan air mendidih. Bahan tersebut     mengapung di atas air atau terendam secara sempurna tergantung dari bobot jenis dan jumlah bahan yang disuling. Air dipanaskan dengan metode pemanasan yang biasa dilakukan, yaitu dengan panas langsung, mantel uap, pipa uap melingkar tertutup, atau dengan memakai pipa uap melingkar terbuka atau berlubang. Ciri khas dari metode ini ialah kontak langsung antara bahan dengan air mendidih. Beberapa jenis bahan (misalnya bubuk buah badam, bunga mawar, dan orange blossoms) harus disuling dengan metode ini, karena bahan harus tercelup dan bergerak bebas dalam air mendidih. Jika disuling dengan metode uap langsung, bahan ini akan merekat dan membentuk gumpalan besar yang kompak, sehingga uap tidak dapat berpenetrasi ke dalam bahan. 

2.    Penyulingan Dengan Air Dan Uap 
      Pada metode penyulingan ini, bahan olah diletakkan di atas rak-rak atau saringan berlubang. Ketel suling diisi dengan air sampai permukaan air berada tidak jauh dari bawah saringan. Air dapat dipanaskan dengan berbagai cara yaitu dengan uap jenuh yang basah dan bertekanan rendah. Ciri khas dari metode ini adalah: 
a)    Uap selalu dalam keadaan basah, jenuh dan tidak terlalu panas. 
b)   Bahan yang disuling hanya berhubungan dengan uap dan tidak dengan air panas 

3.    Penyulingan Dengan Uap 
      Metode ketiga disebut penyulingan uap, atau penyulingan uap langsung dan prinsipnya sama dengan yang telah dibicarakan diatas, kecuali air tidak diisikan dalam ketel. Uap yang digunakan adalah uap jenuh atau uap kelewat panas pada tekanan lebih dari 1 atmosfer. Uap dialirkan melalui pipa uap melingkar yang berpori yang terletak dibawah bahan, dan uap bergerak keatas melalui bahan yang terletak di atas saringan (Guenther, 1987). Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mendasar dari ketiga proses penyulingan. Tetapi bagaimanapun juga dalam prakteknya hasilnya akan berbeda bahkan kadang-kadang perbedaan ini sangat berarti, karena tergantung pada metode yang dipakai dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi selama berlangsungnya penyulingan.
       Namun pada dasarnya, masyarakat dikepulauan Mentawai menggunkan metoda penyulingan minyak nilam yang pertama, dimana biaya yang dikeluarkan sangat murah dan proses pengolahannnyapun tidak rumit. Adapun daerah pemasaran minyak nilam yang dihasilkan oleh masyarakat Mentawai adalah Padang, Bukit Tinggi, Solok dan beberapa daerah lainnya. 

Kandungan Utama Minyak Nilam 
        Minyak nilam terdiri dari persenyawaan terpen dengan alkohol-alkohol. Aldehid dan ester-ester memberikan bau khas misalnya patchouli alkohol. Patchouli alkohol merupakan senyawa yang menentukan bau minyak nilam dan merupakan komponen yang terbesar. Komponen penyusun dari minyak nilam adalah benzaldehid, karyofilen, patchoulena, bulnesen dan patchouli alcohol. 

Parameter Mutu Minyak Nilam Menurut SNI 06-2385-2000 
1.    Putaran Optik
     Nilai putaran optik dapat dipengaruhi oleh komponen dalam minyak nilam dan lama waktu penyulingan saat proses penyulingan. Bila nilai negatif putaran optik semakin tinggi maka komponen yang memutar bidang polarisasi ke arah kiri lebih banyak. Demikian pula sebaliknya, bila nilai positif putaran optik semakin tinggi maka komponen yang memutar bidang polarisasi ke arah kanan lebih dominan. Minyak hasil penyulingan memiliki nilai putaran optik (-47o) – (-66o). 
2.    Berat Jenis
     Tinggi rendahnya nilai bobot jenis minyak bergantung pada komponen yang dominan di dalam minyak tersebut. Semakin tinggi bobot jenis minyak nilam maka semakin tinggi kandungan komponen fraksi beratnya.Maka bobot jenis minyak nilam adalah 0,943 – 0,983 yang sesuai dengan standar mutu Indonesia
3.    Indeks Bias
      Nilai indeks bias dipengaruhi oleh kekentalan dan kerapatan minyak, semakin tinggi kerapatan minyak maka nilai indeks biasnya semakin tinggi. Kerapatan minyak yang tinggi disebabkan banyaknya komponen minyak yang merupakan fraksi berat yaitu seskuiterpen (Nurjannah, et al., 1991). Menurut Deguerry, et al. (2006), komponen seskuiterpen minyak nilam mayoritas berupa patchoulol
4.    Warna
      Warna minyak nilam merupakan salah satu daya tarik dari minyak nilam selain baunya yang khas. Warna minyak nilam dapat rusak bila proses penyulingan dilakukan terlalu lama. Selain waktu proses penyulingan yang terlalu lama, warna minyak nilam dapat rusak karena penggunaan suhu penyulingan yang terlalu tinggi. Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan terjadinya kegosongan (burnt). 
5.    Bilanan Asam
     Bilangan asam menunjukkan kadar asam bebas dalam minyak atsiri. Bilangan asam yang semakin besar dapat mempengaruhi terhadap kualitas minyak atsiri. Yaitu senyawa-senyawa asam tersebut dapat merubah bau khas dari minyak atsiri. Hal ini dapat disebabkan oleh lamanya penyimpanan minyak dan adanya kontak antara minyak atsiri yang dihasilkan dengan sinar dan udara sekitar ketika berada pada botol sampel minyak pada saat penyimpanan. Karena sebagian komposisi minyak atsiri jika kontak dengan udara atau berada pada kondisi yang lembab akan mengalami reaksi oksidasi dengan udara (oksigen) yang dikatalisi oleh cahaya sehingga akan membentuk suatu senyawa asam. Jika penyimpanan minyak tidak diperhatikan atau secara langsung kontak dengan udara sekitar, maka akan semakin banyak juga senyawa-senyawa asam yang akan terbentuk. Oksidasi komponen-komponen minyak atsiri terutama golongan aldehid dapat membentuk gugus asam karboksilat sehingga akan menambah nilai bilangan asam suatu minyak atsiri. 
6.    Kelarutan dalam Alkohol
     Telah diketahui bahwa alkohol merupakan gugus OH. Karena alkohol dapat larut dengan minyak atsiri maka pada komposisi minyak atsiri yang dihasilkan tersebut terdapat komponen-komponen terpen teroksigenasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Guenther bahwa kelarutan minyak dalam alkohol ditentukan oleh jenis komponen kimia yang terkandung dalam minyak. Makin tinggi kandungan terpen makin rendah daya larutnya atau makin sukar larut, karena senyawa terpen tak teroksigenasi merupakan senyawa nonpolar yang tidak mempunyai gugus fungsional.

Manfaat Dan Kegunaan Minyak Nilam 
       Fungsi utama minyak nilam sebagai bahan baku pengikat (fiksatif) dari kandungan utamanya patchouli alcohol (C15H26) dan sebagai bahan pengendali penerbang (eteris) untuk wewangian (Parfum) agar aroma keharumannya bertahan lebih lama. Selain itu, minyak nilam digunakan sebagai salah satu bahan campuran produk kosmetik (di antaranya untuk pembuatan sabun, pasta gigi, sampo, lotion dan deodorant), kebutuhan industri makanan (di antaranya untuk essence atau penambah rasa), kebutuhan farmasi (untuk pembuatan obat anti radang, antifungi, antiserangga, serta dekongestan), kebutuhan aroma terapi, bahan baku compound dan pengawet barang, serta berbagai kebutuhan industri lainnya.
       Minyak nilam mempunyai banyak keunggulan. Selain bermanfaat bagi berbagai ragam kebutuhan industri, masa panen tanaman nilam relaif singkat dan pengendalian tanaman relative mudah dan potensi pasarnya sudah jelas. Pola perdagangan minyak nilam tidak terkena kuota ekspor dan sampai saat ini belum ditemukan bahan sintetis atau bahan pengganti yang dapat menyamai manfaat minyak nilam ini. Oleh sebab itu, kondisi dan potensi minyak nilam tersebut merupakan basic power. 

Variabel Operasi Yang Mempengaruhi Kualitas Produk yang Perlu Dikendalikan 
      Mutu dari minyak nilam pada proses penyulingan dipengaruhi oleh beberapa variable proses. Adapun  variable – variable operasi yang dimaksudkan adalah: 
1.    Waktu 
      Lamanya waktu proses ekstraksi sangat berpengaruh terhadap minyak yang dihasilkan. Kenaikan waktu proses yang digunakan menghasilkan kenaikan rendemen pada minyak yang dihasilkan. Lamanya waktu akan mempermudah penetrasi pelarut kedalam bahan baku, kelarutan komponen-komponen minyak nilam berjalan dengan perlahan sebanding dengan kenaikan waktu, akan tetapi setelah mencapai waktu optimal jumlah minyak yang terambil mengalami penurunan. 
2.    Titik Didih 
      Titik didih dapat didefinisikan sebagai suhu pada tekanan atmosfer atau pada atekanan tertentu lainnya, dimana cairan akan berubah menjadi uap atau suhu pada saat tekanan uap dari cairan tersebut sama dengan tekanan gas atau uap yang berada disekitarnya. 
3.    Suhu dan Tekanan 
a.    PenurunanSuhu dan Tekanan
      Penurunan suhu dapat menyebabkan kurangnya jumlah atau komposisi komponen yang lebih berat dan menambah jumlah atau komposisi komponen yang lebih ringan. 
b.    Kenaikan Suhu dan Temperatur
     Kenaikan suhu dan tekanan dapat terjadi oleh pengendalian yang kurang tepat atau disebabkan kegagalan fungsi alat penendalian suhu dan alat pembuat tekanan vakum. Dengan kenaika suhu, produk atas akan berobah kondisi atau kwalitasnya, yaitu : 
·         menambah jumlah atau komposisi komponen lebih berat (heavy component) 
·         menguragi jumlah atau koposisi komponen lebih ringan (light component) 

Penyulingan Minyak Nilam 
    Di Indonesia sendiri, pengolahan minyak nilam sebagian besar dilakukan oleh para petani/penyuling dan agroindustri skala kecil yang masih menggunakan peralataan yang sederhana terutama di Kabupaten Kep. Mentawai sehingga rendemen minyak nilam yang dihasilkan masih sangat rendah. Selain itu juga, penanganan hasil setelah produksi seperti pemisahan minyak setelah penyulingan, wadah yang digunakan, dan penyimpanan belum dilakukan secara maksimal, Untuk itulah, kita perlu membenahi masalah ini. 

Bahan Baku 
       Tentukan species yang jelas dan mempunyai kandungan minyak yang tinggi baik dari batang maupun daun. Yang paling bagus adalah nilam Aceh Sidikalang jenis ini mempunyai kandungan minyak sekitar (3 – 5)%. Sebaiknya diuji randemennya dahulu sebelum disuling di laboratorium. Dengan batas kekeringan antara (22 – 25)% kadar air. Ini sangat penting karena berhubungan dengan waktu penyulingan dan laju aliran uap yang dubutuhkan untuk proses penyulingan tersebut. Sebelum disuling kedalam penyulingan tanaman harus dirajang terlebih dahulu. Tujuan perajangan adalah untuk mempermudah penguapan minyak atsiri yang terdapat dalam kantung minyak didalam ruang antar sel dalam jaringan tanaman. Tentukan prosesnya apakah kita akan memakai raw material daun segar, daun setengah kering atau daun kering. Ini penting karena setiap raw material, memerlukan penangan yang berbeda.  
Perhitungan Penyulingan Minyak Nilam 
              Contoh Perhitungan :
              Diketahui :       Bahan Baku Utama : Daun nilam Kering 500 kg 
                                       Bahan Penolong : Air untuk Steam 
                                       Lama Penyulingan ± 6 jam 
                                      Peralatan :       Boiler sebagai penghasil steam 
                                                              Ketel Penyuling tempat penyulingan nilam 
                                                              Kondensor 
                                                              Separator 
                                                             Rendemen nilam = 1,5 %
            Ditanya : Berapa berat minyak nilam yang dihasilkan dalam proses  penyulingan tersebut ?
                  Penyelesaian :
                 Banyaknya minyak nilam yang dihasilkan adalah : 
                                                         Berat Bahan Baku 
                Rendemen    =                                                          x  100 % 
                                                   Berat minyak yang dihasilkan
                 Berat Minyak =  Rendemen minyak    x   Berat bahan baku 
                                       =  1,5  %    x     500 Kg 
                                       =  7,5 Kg.

    Kesimpulan
          Adapun kesimpulan yang bisa diambil adalah sebagai berikut :
    1.  Salah satu komoditi tanaman yang berpotensi di Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah tanaman Nilam.
    2.    Perbaikan dan penataan dalam proses budi daya dan pengolahan nilam di Kabupaten Mentawai perlu dilakukan agar dapat meningkatkan kuantitas produksi dan kualitas hasil olahannya untuk dapat bersaing baik di pasar nasional maupun internasional. Dengan demikian, tingkat kesejahteraan para petani nilam dan masyarakat yang ada di sekitar agroindustri pengolahan nilam dapat meningkat.
    3.     Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak nilam terbesar di dunia yang cukup terkenal.


    0 komentar:

    Posting Komentar

    Mohon Maaf... Apabila Blog Ini Jarang Di Update Karena Kesibukkan Saya Saat Ini. Thanks...